Menuju Buru:

Tempat Terliar di Muka Bumi

Tulisan oleh
Raka Ibrahim

didukung oleh
Arts Equator Fellowship 2024

SETELAH BELIAU pensiun, panggilan leluhur kembali mengusik Mama Aminah Tan. Tugas turun-temurun ini teringat di sela kesibukannya sebagai pemimpin pengajian, menghampiri batinnya di antara kelas kajian agama yang beliau pandu saban sore. Seperti leluhur-leluhurnya yang diberkati mukjizat serupa, Mama Aminah mesti bernyanyi tentang Pulau Buru.

Kami berjumpa di teras rumahnya di Namlea, satu-satunya kota sekaligus pelabuhan terbesar di pulau Buru. Pohon-pohon kayu putih di perbukitan sedang terbakar seperti biasa, sehingga kabut asap tipis dengan aroma memabukkan turun menuju lembah. Di hadapan kami tersaji kudapan yang terbuat dari hotong – sejenis biji-bijian endemik – dan minuman wedang kemerahan bernama loji.

Cerita ini dimulai ketika Mama Aminah masih remaja. Suatu malam, leluhurnya datang kepadanya dalam mimpi. Dalam perjumpaan lain dunia itu, leluhur Mama Aminah memberikannya tugas untuk bernyanyi tentang pelayaran agung Majapahit yang membawa keluarga mereka ke Buru, ratusan tahun yang lalu.

Sebuah kelompok Dendang Jawi (foto oleh Hibatul Hakim dari Laut Loud - Arka Kinari)

Ketika Mama Aminah bangun, beliau tak hanya bisa menyanyi. Mendadak, beliau hafal repertoar syair, petuah, dan kisah tentang Buru dan peradabannya – seolah semua informasi ini baru saja diunggah dari alam niskala ke dalam kepalanya. Sejak saat itu, Mama Aminah menjadi penyanyi Dendang Jawi, sebuah tradisi vokal yang hampir punah dari pulau itu.

Konon mukjizat ini tak bisa sembarangan dibagikan. Mama Aminah harus berada dalam keadaan separuh trance, dan mesti dikelilingi orang yang membuat jiwanya merasa aman. Mengajak seorang penyanyi Dendang Jawi mengeluarkan suaranya tak semudah meminta biduan pentas. Dendang Jawi, tutur Mama Aminah, hanya akan mau didengarkan oleh telinga-telinga yang pantas.

Namun, ratusan tahun telah lewat sejak kesenian itu konon dikenalkan kepada Buru. Amanahnya yang luhur, hangat, bahkan romantis hampir dipudarkan oleh berabad-abad sejarah kelam yang lekat dengan nama Buru. Boleh jadi, sekarang semakin banyak orang perlu mengakrabi Dendang Jawi untuk mendapat pandangan tentang pulau Buru yang lebih dari sekadar tragedi dan malapetaka.

KETIKA PARA eksil Orde Baru, para transmigran, dan para pekerja paksa dikirim oleh rezim-rezim penindas ke Buru, mereka mesti melakukan satu hal yang sama. Setibanya di pesisir, mereka harus mengambil segenggam tanah, lantas menelannya.

Ritual ini disebut Sumpah Tanah. Tergantung siapa yang kamu tanya, ritual ini bisa dianggap sebagai ekspresi kesetiaan terhadap pulau Buru atau rantai yang mengikatmu ke sana. Perdebatan ini bahkan bisa memecah-belah keluarga. Seorang transmigran paruh baya yang saya ajak kenalan di desa Savanajaya menganggap sumpah tanah sebagai simbol bahwa mereka telah melupakan kampung halaman dan berkomitmen jadi orang Buru seutuhnya. Adapun suami beliau, seorang bekas tahanan politik, memandang sumpah tanah sebagai ikatan kultural dan kontrak sosial yang melarangnya pindah dari pulau Buru.

Hadirnya sumpah tanah dalam leksikon keseharian orang Buru adalah sebentuk pengakuan bahwa cerita pulau itu mau tidak mau didominasi oleh relasi mereka dengan pendatang. Barbara Dix Grimes dalam artikelnya, Mapping Buru: The Politics of Territory and Settlement on an Eastern Indonesian Island (2006), menyebut bahwa ada frasa dalam bahasa Buru untuk menggambarkan populasi pendatang yang menetap di pulau itu – geba fi lawe, atau orang-orang dari seberang lautan. Populasi orang-orang dari pinggir samudera ini bertumbuh secara berangsur, hingga sekarang lebih dari separuh penduduk pulau Buru terdiri dari pendatang dan keturunannya.

Namun, dalam imajinasi populer kita sebagai orang Indonesia, interaksi antara orang-orang samudera dengan pulau Buru ini melulu didominasi oleh tragedi. Ratusan tahun lalu, sebagai bagian dari perselisihan mereka dengan Makassar, VOC menduduki pulau Buru dan membakar ribuan pohon cengkeh untuk mempertahankan monopoli mereka atas rempah tersebut. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, pulau ini menjadi tuan rumah pangkalan militer yang membawa serta jugun ianfu – nama untuk perempuan penghibur yang menjadi korban eksploitasi seksual oleh aparat militer Jepang.

Nama Buru kemudian termasyhur pada rezim Orde Baru, ketika ribuan tahanan politik diasingkan ke pulau itu dengan perkakas seadanya dan diplot menjadi pekerja paksa. Di antaranya adalah sastrawan luhur Pramoedya Ananta Toer, yang melahirkan Tetralogi Buru berdasarkan pengalamannya ditahan bertahun-tahun di sana, lantas mengabadikan pulau Buru dalam sanubari kolektif manusia Indonesia.

Agaknya, para geba fi lawe gemar mengekspor masalah mereka ke pulau Buru, entah dalam bentuk perang, ketamakan, atau gejolak politik. Bila narasi sejarah ini adalah satu-satunya cara orang Buru memaknai kehadiran mereka di dunia, maka mereka akan dengan mudahnya memandang tanah air mereka sebagai muara dari segala malapetaka, kesialan, dan pelanggaran HAM.

Dendang Jawi adalah satu dari sedikit bentuk kesenian yang menawarkan narasi alternatif terhadap identitas dan sejarah pulau Buru. Melalui syair-syair Dendang Jawi, orang Buru disajikan narasi yang lebih menguatkan, dan diajak membayangkan sebuah masa di mana Buru bukan sekadar tempat pengasingan, dan penduduknya bukan sekadar orang-orang yang dikalahkan oleh sejarah.

Sebab kesenian ini terlalu lama diabaikan, sejarah Dendang Jawi harus dirangkai dari folklor dan sejarah oral. Meski sesekali ditopang temuan artefak, catatan sejarah yang mengiringinya hampir selalu sumir. Kata ‘konon’ akan muncul terlalu sering, sebab penelitian resmi yang mendalam untuk subyek ini memang masih nol besar. Namun himpunan cerita yang masih ringkih ini bermuara pada satu daerah: Masarete.

Kini, Masarete sekadar desa mungil yang hampir terlupakan di hadapan Teluk Kayeli – satu jam naik kapal dari pelabuhan Namlea. Namun, konon, wilayah teluk ini pernah menjadi pendaratan dari ekspedisi kekaisaran Majapahit yang hendak melebarkan sayap dan mengukuhkan pengaruhnya terhadap pulau-pulau penghasil rempah di Maluku. Kitab Negarakertagama bahkan mencatat pulau Buru meski dengan nama lain: Hutan Kadali.

Orang-orang asli Masarete, termasuk Mama Aminah Tan dan keluarganya, percaya jejak Majapahit masih tertinggal di desa itu. Mama Je, seorang budayawan sekaligus adik kandung Mama Aminah, berkisah tentang kuburan-kuburan lama dengan batu nisan yang bertatahkan ukiran aksara Farsi dan Arab. Keduanya bersemangat mengisahkan masjid tertua di Masarete yang harus dicat dengan warna kebesaran Majapahit, yakni merah-putih, dan menampilkan relikui-relikui Jawa (termasuk sepasang tombak) di mimbarnya. Kemudian hadir pula anekdot-anekdot tentang penemuan pecahan tembikar, keramik, dan koin-koin dari luar negeri.

Semua ini, menurut mereka, menjadi bukti tercecer dari masa lalu pulau Buru sebagai pusat perdagangan yang ramai dan dikunjungi saudagar dari berbagai belahan dunia. Sebuah masa lalu yang agung dan idealis, di mana Buru adalah tempat yang kaya dan menjadi bagian penting dari sebuah jalur niaga internasional.

Masa lalu penuh kejayaan inilah yang direkam oleh Dendang Jawi. Syair-syairnya banyak membahas kisah kedatangan armada Patih Gajah Mada di pesisir Teluk Kayeli beratus-ratus tahun lalu. Menurut ceritera, sebagai tanda persaudaraan dengan para raja pulau Buru, Gajah Mada meninggalkan penyanyi-penyanyi kesukaannya di sana. Keturunannya menetap di Buru, dan bertugas mengabadikan cerita kedatangan Majapahit di Buru melalui lagu.

Ketika seorang penyanyi Dendang Jawi mendapat ilham untuk bernyanyi, syair yang beliau sampaikan hampir selalu bersifat spontan. Terkadang dinyanyikan dengan patah-patah seperti pembacaan puisi, kadang mengalun seperti lantunan mantra, tradisi vokal ini juga dibumbui oleh jejak-jejak tradisi vokal lainnya yang menetap di pulau Buru – sedikit cengkok macapatan, sedikit lengkingan maqam, namun disampaikan entah dalam dialek Mbasi-Mbasi yang sudah punah atau dialek Melayu Maluku yang kental.

Malam itu, di teras rumah Mama Aminah, dua cangkir loji dan percakapan hangat tentang pelayaran dari seberang samudra perlahan melunakkan hatinya untuk bernyanyi. Salah satu syair kesukaan Mama Aminah bernyanyi tentang Buru dengan romantis dan penuh sayang. Buru dipanggil dengan nama lamanya, Hutan Kadali, dan dipuja-puja sebagai “tanah pusaka”, serta “benteng karamat” yang menjadi penjaga “negeri bertuhan di Nusantara.”

Penampilan Dendang Jawi kadang diiringi oleh suling, gendang, dan penari (foto oleh Hibatul Hakim dari Laut Loud - Arka Kinari)

Mama Aminah biasanya tidak bernyanyi sendirian. Seorang pemain perkusi, seorang pemain suling, dan seorang penari akan mengaluni senandung beliau. Permainan mereka tak pernah rancak, dengan tempo tak menentu yang mengikuti kata hati sang penyanyi Dendang Jawi. Ganjil rasanya mendengar perkusi dan suling, dua instrumen yang umumnya dominan dan memekakkan telinga, dimainkan dengan begitu halus, seolah tak ingin lebih tinggi derajatnya dari syair-syair Dendang Jawi.

Ketika nyanyian Mama Aminah rampung, tangis sudah terhimpun di pelupuk matanya. Beliau menghela nafas panjang, seperti baru pulang dari perjalanan jauh, kemudian menyunggingkan senyum lebar.

SELEPAS SETIAP panggung, seusai gelora hati yang datang setelah menuntaskan syair Dendang Jawi, perasaan sedih menyelimuti batin Mama Aminah. Ada beban besar yang beliau tanggung, beban yang tak pernah dialami satu pun leluhurnya. Sepanjang pengetahuan beliau, Mama Aminah adalah penyanyi Dendang Jawi terakhir di pulau Buru.

Ketika saya bertanya mengapa kemampuan ini tak diwariskan ke generasi berikutnya, Mama Aminah menggelengkan kepalanya. Amanah untuk menjadi penyanyi Dendang Jawi hanya datang melalui mimpi, dan konon, hanya kepada para keturunan penyanyi-penyanyi Majapahit yang dulu ditinggal oleh Gajah Mada di pulau Buru. Orang yang terpilih menjadi penyanyi pun tak menentu – tak mesti sulung atau bungsu, tak mesti ada juga di satu angkatan keturunan. 

Mungkin belum ada penyanyi Dendang Jawi lagi yang muncul, kata beliau, sebab leluhur kami memang belum menghendakinya. Namun berkat dorongan Mama Je, yang ingin kakaknya membagikan cerita Dendang Jawi ke sebanyak mungkin telinga, kesenian ini perlahan keluar dari cangkangnya. 

Posisinya sebagai pejabat di salah satu kedinasan lokal memudahkan upaya beliau. Sebuah stasiun televisi swasta nasional yang membuat liputan perjalanan tentang potensi pariwisata pulau Buru diajak Mama Je menghampiri masjid tua Masarete dan merekam nyanyian Mama Aminah. Kemudian, sebuah acara publik berisi tari-tarian kolosal dan parade yang terinspirasi pendaratan Majapahit di pulau Buru diresmikan oleh nyanyian khidmat Dendang Jawi.

Meski beliau tahu cara ini tidak akan menghasilkan penyanyi Dendang Jawi tulen, Mama Je bahkan berhasil meyakinkan kakaknya untuk mengajarkan cengkok dan satu-dua “lagu” Dendang Jawi ke sekolah-sekolah. Secara berangsur, tradisi vokal ini mulai dikenalkan kembali ke kesadaran populer masyarakat pulau Buru. Dan bagi Mama Aminah dan Mama Je, kekuatan Dendang Jawi terletak pada narasinya.

Cerita panjang pulau Buru mau tidak mau didominasi oleh kekerasan berturut-turut yang dipaksakan dunia luar kepadanya – mulai dari penjajahan, pembantaian, hingga pengasingan masa Orde Baru. Dendang Jawi memberikan titik acuan yang berbeda. Jika sejarah pulau Buru dimulai dari pendaratan Majapahit alih-alih pendudukan Belanda, maka Buru bukan lagi sekadar pulau yang menjadi korban sejarah.

Buru adalah tanah pusaka, bukan kamp pengasingan. Orang-orang datang ke sana untuk meneguhkan benteng keramat, bukan karena diusir dari tanah kelahirannya. Sudut pandangnya memang romantis, namun Dendang Jawi membuat Buru mampu mengimajinasikan dirinya sebagai pelabuhan dagang mancanegara yang pernah mekar dan berdaya, meski hanya sejenak di masa silam.

Dalam Dendang Jawi, sekilas saja, Buru bersitegang dengan sejarah, dan ia menang. (*)

Raka Ibrahim (l. 1996) adalah penulis, pekerja seni, dan pelayar amatir asal Jawa Timur. Melalui karya fiksi & non-fiksi, ia menjelajahi gagasan seperti tarik-ulur kita dengan kekuasaan, politik keseharian, & karya seni yang merobohkan batas nalar. Tulisannya telah terbit di The Jakarta Post, Portside Review, Jurnal Ruang, Kumparan Plus, & masih banyak lagi.

Sejak 2021, ia menjadi kru pelayar & kurator program untuk Arka Kinari — kapal layar 70-ton yang disulap menjadi panggung & ruang kebudayaan terapung oleh musisi Filastine & Nova.